Banyak orang yang menghujat Pemerintah, para Pemimpin, karena dianggap tidak becus menangani bencana.
Ada mahasiswa yang berdemo menentang kedatangan SBY ke Yogya untuk berkunjung ke daerah bencana. Bahkan ada pula mahasiswa yg demo demo tidak jelas dan tidak penting tujuannya, yg paling memalukan ada juga diantara mereka yang tawuran.
Ada pula politikus yg sibuk mencari muka dan celah dalam derita bangsa ini bahkan untuk mencari simpati.
Tapi wahai saudaraku, jangan pedulikan mereka, jangan hiraukan mereka. Biarlah mereka menjadi anjing anjing yang hanya bisa menggonggong tanpa bisa berbuat sesuatu. biarkan anjing menggonggong kafilah tetap berlalu.
Saudara saudara kita yg terkena bencana itu membutuhkanpertolongan yang nyata, membutuhkan uluran tangan yang nyata. Lihatlah para Relawan, pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka tidak berteriak teriak, mereka tidak gembar gembor, meeka rela membantu saudara saudara kita yang kesusahan, menderita tanpa pamjrih.
Lihat juga para prajurit kita, bahau membahu menolong dan bekerja di tempata bencana.
Diamlah, tutup mulutmu, itu jauh lebih baik dari pada teriak teriak menghujat orang.
Jumat, November 05, 2010
Minggu, Juli 11, 2010
pantaskah kita mengeluh
Ini cerita tentang teman teman saya yang telah tiada karna penyakit kanker yang menggerogotinya.
Ajal, adalah takdir Allah, tapi ada asbab untuk bertemu dengan ajal itu, dan ada banyak sekali asbab yang menyebabkan ajal itu. Salah satunya adalah penyakit dan salah satu penyakit itu adalah kanker yang memang dikenal sebagai penyakit yang mematikan karena belum ada obat yang pasti.
Pertama, aku punya seorang sahabat , yang sudah seperti kakakku sendiri, aku sangat sayang padanya, begitu juga keluarganya, anak anaknya, mereka semua sayang padaku. Sahabatku ini, sama sekali tidak menyangka baha ia mengidap kanker. Pada awalnya ia merasa punggungnnya tepatnya tulang blikatnya terasa nyeri dan ngilu. Awalnya dipikir masuk angin, jadi di kerokin, ternya ta masih sakit, kemudian disangka ada urat yang kejepit, sehingga di urut, ternya masih tidak ada perubahan, akhirnya ke dokter, dokter awalnya mendiagnosa asam urat atau pengapuran, ternya semua salah, akhirnyasahabatku ini pergi ke rumah sakit spesialis tulang. Setelah diperiksa dengan teliti didapatlah hasil diagnosa yang cukup mengejutkan, sahabatku terkena kanker tulang stadium 4.
Kedua, sahabatku dan kakak sepupuku, mereka tak pernah mengeluh apapun tentang kesehatan dirinya, dan kesehariannya pun terlihat biasa saja, normal normal saja, tetapi ternyata ia telah mengidap kanker payudara juga stadium 4, dan kini pun telah dipangil menghadapNya
Ketiga, masih juga sahabatku dan juga masih kanker, yyang ini terkena kanker lidah, ia juga tidak pernah mengeluhkan tentang kesehatannya, tahu tahu aku dikabari bahwa dia terkena kanker lidah dan telah menjalankan operasi. Ketika aku menanyakannya, dia bilang Allah lagi menginginkan aku lebih dekat denbgan Dia. Dan ketika aku menjenguknya, tak tampak sama sekali seperti orang yg sedang sakit, dan ia sama sekali tidak mengeluhkan penyakitnya. Ia hanya bercerita tentang proses operasinya, dia memang bercerita bahwa dia sempet shock menerima kabar itu, tapi ya sudah ia katakan ia pasrah saja menerimanya.
Pasti masih banyak lagi cerita seperti di atas, bukan hanya penyakit kanker saja mungkin, tetapi dari beberapa cerita di atas, aku jadi berpikir, apakah aku pantas mengeluh hanya karena sedikit lelah, sedikit flu atau sakit sedikit?
Aku malu, malu sama Allah, aku malu sama diriku sendiri, bila aku harus mengeluh karena hal hal sepele itu. Sahabat sahabatku saudara ku tidak pernah mengeluh sedikitpun padahalan ujian yang harus dijalaninya amat berat.
Ajal, adalah takdir Allah, tapi ada asbab untuk bertemu dengan ajal itu, dan ada banyak sekali asbab yang menyebabkan ajal itu. Salah satunya adalah penyakit dan salah satu penyakit itu adalah kanker yang memang dikenal sebagai penyakit yang mematikan karena belum ada obat yang pasti.
Pertama, aku punya seorang sahabat , yang sudah seperti kakakku sendiri, aku sangat sayang padanya, begitu juga keluarganya, anak anaknya, mereka semua sayang padaku. Sahabatku ini, sama sekali tidak menyangka baha ia mengidap kanker. Pada awalnya ia merasa punggungnnya tepatnya tulang blikatnya terasa nyeri dan ngilu. Awalnya dipikir masuk angin, jadi di kerokin, ternya ta masih sakit, kemudian disangka ada urat yang kejepit, sehingga di urut, ternya masih tidak ada perubahan, akhirnya ke dokter, dokter awalnya mendiagnosa asam urat atau pengapuran, ternya semua salah, akhirnyasahabatku ini pergi ke rumah sakit spesialis tulang. Setelah diperiksa dengan teliti didapatlah hasil diagnosa yang cukup mengejutkan, sahabatku terkena kanker tulang stadium 4.
Kedua, sahabatku dan kakak sepupuku, mereka tak pernah mengeluh apapun tentang kesehatan dirinya, dan kesehariannya pun terlihat biasa saja, normal normal saja, tetapi ternyata ia telah mengidap kanker payudara juga stadium 4, dan kini pun telah dipangil menghadapNya
Ketiga, masih juga sahabatku dan juga masih kanker, yyang ini terkena kanker lidah, ia juga tidak pernah mengeluhkan tentang kesehatannya, tahu tahu aku dikabari bahwa dia terkena kanker lidah dan telah menjalankan operasi. Ketika aku menanyakannya, dia bilang Allah lagi menginginkan aku lebih dekat denbgan Dia. Dan ketika aku menjenguknya, tak tampak sama sekali seperti orang yg sedang sakit, dan ia sama sekali tidak mengeluhkan penyakitnya. Ia hanya bercerita tentang proses operasinya, dia memang bercerita bahwa dia sempet shock menerima kabar itu, tapi ya sudah ia katakan ia pasrah saja menerimanya.
Pasti masih banyak lagi cerita seperti di atas, bukan hanya penyakit kanker saja mungkin, tetapi dari beberapa cerita di atas, aku jadi berpikir, apakah aku pantas mengeluh hanya karena sedikit lelah, sedikit flu atau sakit sedikit?
Aku malu, malu sama Allah, aku malu sama diriku sendiri, bila aku harus mengeluh karena hal hal sepele itu. Sahabat sahabatku saudara ku tidak pernah mengeluh sedikitpun padahalan ujian yang harus dijalaninya amat berat.
Minggu, Oktober 25, 2009
PERTEMUAN
Kita bisa bertemu karena atas Allah, dan kita berpisah juga atas seijin Nya.
Kita tidak pernah bisa memilih untuk hidup, karena hidup Dia lah yang menentukan.
Kita tidak dapat memilih orang tua kita, kita menjadi anak siapa, dan kita juga tidak bisa memilih kita ingin anak yang seperti apa.
Semua itu telah ditentukan dan diatur oleh Yang MahaKuasa, Sang Maha Pencipta.
Tetapi dalam hidup kita harus memilih, karena hidup itu adalah pilihan.
Kita bisa memilih apakah kita mau menjadi orang yang baik atau jahat, orang yang rajin atau malas, dan seterusnya dan seterusnya.
tigapuluh empat tahun yang lalu orang tuaku mengangkat (adopsi) seorang anak laki laki sebagai adikku. Dua tahun kemudian beliau mengangkat lagi seorang anak perempuan.
Keluarga kami (orang tuaku dan aku) menyayangi mereka dengan tulus. Orang tuaku tidak membedakan kasih sayangnya antara aku dan adik adik angkatku. Bahkan sebenarnya mereka lebih dimanjakan dibandingkan aku. (ini kata saudara saudaraku). Aku juga bisa merasakah hal ini, tapi aku tidak merasa iri, karena aku juga menyayangi dan memanjakan mereka. Hal ini aku anggap sebagai suatu yang wajar, karena ketika orang tuaku mengangkat anak tersebut usiaku sudah duabelastahun. Bayangkan, selama bertahun tahun endambakan anak lagi dan b ertahun tahun pula aku mendambakan adik. Jadi wajar saja kalau adik adikku dimanjakan kami.
Tetapi, sebagai orang muslim, aku menyadari bahwa tidak ada istilah anak angkat dalam Islam. Karena ini berhubungan dengan masalah muhrim dan waris juga nazab. Jadi dengan kata lain mereka harus diberi tahu siapa mereka. Masalahnya orang tuaku tidak mau atau belum mau memberi tahu mereka, Karena mereka khawatir dampaknya dan juga orang tuaku merasa mereka belum siap untuk diberi tahu siapa mereka sebenarnya, sampai akhirnya kedua orang tuaku wafat.
Apabila orang tua kita meninggal, mereka akan mewariskan bukan saja harta bila ada, tetapi juga persoalan yang belum terselesaikan, seperti hutang piutang dll. Dan sekarang orang tuaku meninggalkan harta juga hal hal yang harus diluruskan, yaitu tentang siapa sesungguhnya adik adik ku itu.
Kita tidak pernah bisa memilih untuk hidup, karena hidup Dia lah yang menentukan.
Kita tidak dapat memilih orang tua kita, kita menjadi anak siapa, dan kita juga tidak bisa memilih kita ingin anak yang seperti apa.
Semua itu telah ditentukan dan diatur oleh Yang MahaKuasa, Sang Maha Pencipta.
Tetapi dalam hidup kita harus memilih, karena hidup itu adalah pilihan.
Kita bisa memilih apakah kita mau menjadi orang yang baik atau jahat, orang yang rajin atau malas, dan seterusnya dan seterusnya.
tigapuluh empat tahun yang lalu orang tuaku mengangkat (adopsi) seorang anak laki laki sebagai adikku. Dua tahun kemudian beliau mengangkat lagi seorang anak perempuan.
Keluarga kami (orang tuaku dan aku) menyayangi mereka dengan tulus. Orang tuaku tidak membedakan kasih sayangnya antara aku dan adik adik angkatku. Bahkan sebenarnya mereka lebih dimanjakan dibandingkan aku. (ini kata saudara saudaraku). Aku juga bisa merasakah hal ini, tapi aku tidak merasa iri, karena aku juga menyayangi dan memanjakan mereka. Hal ini aku anggap sebagai suatu yang wajar, karena ketika orang tuaku mengangkat anak tersebut usiaku sudah duabelastahun. Bayangkan, selama bertahun tahun endambakan anak lagi dan b ertahun tahun pula aku mendambakan adik. Jadi wajar saja kalau adik adikku dimanjakan kami.
Tetapi, sebagai orang muslim, aku menyadari bahwa tidak ada istilah anak angkat dalam Islam. Karena ini berhubungan dengan masalah muhrim dan waris juga nazab. Jadi dengan kata lain mereka harus diberi tahu siapa mereka. Masalahnya orang tuaku tidak mau atau belum mau memberi tahu mereka, Karena mereka khawatir dampaknya dan juga orang tuaku merasa mereka belum siap untuk diberi tahu siapa mereka sebenarnya, sampai akhirnya kedua orang tuaku wafat.
Apabila orang tua kita meninggal, mereka akan mewariskan bukan saja harta bila ada, tetapi juga persoalan yang belum terselesaikan, seperti hutang piutang dll. Dan sekarang orang tuaku meninggalkan harta juga hal hal yang harus diluruskan, yaitu tentang siapa sesungguhnya adik adik ku itu.
Selasa, Juni 09, 2009
memberi dan menerima
Kita sudah sering mendengar istilah 'take and give', menerima dan memberi, yang kira kira artinya kalau kita mau menerima ya berarti kita juga harus mau memberi, jangan egois.
Tapi saya baru memahami, mendapat pencerahan baru, bahwa bila kita ingin hidup damai dan cerdas, bukan menerima dan memberi seperti di atas, tetapi Memberi dan Menerima, yang mempunyai makna yang lebih mulia.
Memberi, maksudnya kita memberikan yang terbaik yang dapat kita berikan kepada orang yang kita sayangi, orang tua kita, suami/istri kita, anak anak kita, saudara saudara kita, sahabat sahabat kita, orang orang sekitar kita, bahkan untuk negara kita.
Dan Menerima, maksudnya kita harus bisa menerima kekurangan dari orang orang yang kita sayangi, dan lingkungan kita.
Tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa kita jalani.
Barangkali, diantara kita tanpa kita sadari telah menjalankan prinsip memberi dan menerima ini, hanya saja kita tidak menyadarinya.
Tetapi apabila belum, cobalah untuk mulai menjalaninya, niscaya akan terasa bedanya, hidup ini akan terasa begitu indah dan semakin indah.
Tapi saya baru memahami, mendapat pencerahan baru, bahwa bila kita ingin hidup damai dan cerdas, bukan menerima dan memberi seperti di atas, tetapi Memberi dan Menerima, yang mempunyai makna yang lebih mulia.
Memberi, maksudnya kita memberikan yang terbaik yang dapat kita berikan kepada orang yang kita sayangi, orang tua kita, suami/istri kita, anak anak kita, saudara saudara kita, sahabat sahabat kita, orang orang sekitar kita, bahkan untuk negara kita.
Dan Menerima, maksudnya kita harus bisa menerima kekurangan dari orang orang yang kita sayangi, dan lingkungan kita.
Tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa kita jalani.
Barangkali, diantara kita tanpa kita sadari telah menjalankan prinsip memberi dan menerima ini, hanya saja kita tidak menyadarinya.
Tetapi apabila belum, cobalah untuk mulai menjalaninya, niscaya akan terasa bedanya, hidup ini akan terasa begitu indah dan semakin indah.
Jumat, Mei 22, 2009
bila saja bisa menjadi pelipur lara
bila saja, teriknya matahari
bisa menguapkan dosa dosa kita
bila saja, derasnya tetesan air hujan
bisa menghanyutkan salah salah kita
bila saja, gelapnya mendung ini
bisa menutupi khilaf khilaf kita
dan moga saja hari ini akan menjadi hari yang lebih baik
dari hari hari kemarin
dan moga saja Allah selalu mengabulkan doa doa kita
amien..
bisa menguapkan dosa dosa kita
bila saja, derasnya tetesan air hujan
bisa menghanyutkan salah salah kita
bila saja, gelapnya mendung ini
bisa menutupi khilaf khilaf kita
dan moga saja hari ini akan menjadi hari yang lebih baik
dari hari hari kemarin
dan moga saja Allah selalu mengabulkan doa doa kita
amien..
Senin, Maret 16, 2009
selalu ada jalan keluar
Hidup ini tidaklah selalu mulus, mesti ada gejolak. Bagaimanakah kita menyikapinya.
Banyak cara yang dapat kita lakukan, tergantung apa yang akan kita pilih. Tapi yang terpenting adalah carilah jalan keluar atau penyaluran yang positif, yang sesuai dengan norma.
Ada orang yang memilih bercerita pada seseorang agar beban yanaga dirasalebih ringan.
Ada orang yang memilih melakukan beragam kegiatan untuk mengalihkan beban pikirannya.
Dan masih banyak lagi pilihan kita.
Untuk aku sendiri, aku lebih suka melarikan segala persoalanku dalam shalat, doa dan dzikir, dan juga menulis semua kegelisahan hati ini.
Dengan shalat, doa dan dzikir membuat hati menjadi ringan dan tenang.
Dengan menulis segala kegalauan, itu juga bisa membuat hati ringan dan tenang.
Jadi.... apapun persoalan itu... Insya Allah dengan kembali pada Nya, kita akan selalu mendapat jalan keluar, mendapat kedamaian, mendapat ketentraman, dan keringan dalam setiap permasalahan. Amin.
Dan dengan menulis kegalauan aku mendapat kelegaan telah dpat mengeluarkan rasa hati yang menyesakan dada.
Jadi... bukankah tidak ada masalah yang tak ada jalan keluarnya..... ya ga sih....
Banyak cara yang dapat kita lakukan, tergantung apa yang akan kita pilih. Tapi yang terpenting adalah carilah jalan keluar atau penyaluran yang positif, yang sesuai dengan norma.
Ada orang yang memilih bercerita pada seseorang agar beban yanaga dirasalebih ringan.
Ada orang yang memilih melakukan beragam kegiatan untuk mengalihkan beban pikirannya.
Dan masih banyak lagi pilihan kita.
Untuk aku sendiri, aku lebih suka melarikan segala persoalanku dalam shalat, doa dan dzikir, dan juga menulis semua kegelisahan hati ini.
Dengan shalat, doa dan dzikir membuat hati menjadi ringan dan tenang.
Dengan menulis segala kegalauan, itu juga bisa membuat hati ringan dan tenang.
Jadi.... apapun persoalan itu... Insya Allah dengan kembali pada Nya, kita akan selalu mendapat jalan keluar, mendapat kedamaian, mendapat ketentraman, dan keringan dalam setiap permasalahan. Amin.
Dan dengan menulis kegalauan aku mendapat kelegaan telah dpat mengeluarkan rasa hati yang menyesakan dada.
Jadi... bukankah tidak ada masalah yang tak ada jalan keluarnya..... ya ga sih....
Minggu, Maret 01, 2009
anakku sahabatku
Sangat menyenangkan bila kita bisa menjadi sahabat bagi anak anak kita sendiri.
Aku sungguh merasa beruntung anak anakku semua menjadi sahabatku.
Anakku tertua, remaja putri, sudah kuliah semester dua.
Anakku kedua, remaja putri, sma kelas dua.
Anakku ketiga, abg pria, smp kelas satu.
Hubungan kami, sangat erat dan akrab, layaknya sahabat. Kami selalu berbagi rasa suka dan duka, cerita sehari hari. Tiap hari aku mendengarkan cerita cerita mereka, ada yang lucu, ada yang menggemaskan, ada yang nyebelin bikin kesel, ada nyenengin, ah pokoknya berbagai macam cerita. Dan akupun akan menceritakan kejadian seharian yang aku alami.
Aku sungguh merasa beruntung, dan memanjatkan puji syukur pada Allah SWT, yang telah mempercayakan mereka padaku.
Kami bisa berbagi cerita apa saja. Aku sendiri sering bercerita tentang pengalaman masa muda aku kepada mereka. Kebandelan aku, kegagalan aku. Aku tidak merasa malu untuk mengakui kekuranganku pada mereka, karena aku selalu menekankan bahwa walaupun aku seorang ibu, tapi, aku hanya manusia biasa, jadi bisa saja berbuat salah, keliru atau khilaf. Aku bercerita seperti itu karena aku tidak ingin mereka mengulangi kesalahan yang sama seperti yang pernah aku lakukan atau merasakan pengalaman pahit yang pernah aku alami.
Tapi bukan hanya kekurangan aku tapi juga kelebihan aku, walau jadi terasa narsis, hehhehe....., tapi aku ingin mereka bisa meniru hal hal yang baik atau menyengangkan yang aku rasakan.
Hasilnya, lumayan....., anak anak ku tidak perlu mengalami pengalaman buruk ibunya, dan juga bisa meniru hal hal yang baik dari ibunya. (yang jelek juga suka ditiru ding....).
Aku menerapkan keterbukaan, kejujuran dan keterusterangan. Kami sering saling curhat, dan yang paling sering dicurhatin seperti biasanya anak remaja... tentang pacar, ...... hahhaha...perca. kadang kadang suka niru juga kejahilan ibunya..... hhehhehe... tepe tepe (tebbar pesona).
Kepada mereka bahkan aku mengajarkan lebih tepat menceritakan bagaimana caranya bergaul dengan lawan jenis, aku memberikan trik trik yang mereka butuhkan dalam pergaulan.... dan hasilnya ternyata huu.... mereka jadi lebih jago dan berhasil daripada aku dulu ketika seumur mereka.... weleh weleh...
Memang menyenangkan punya sahabat dan menjadi sahabat anak sendiri.
Aku sungguh merasa beruntung anak anakku semua menjadi sahabatku.
Anakku tertua, remaja putri, sudah kuliah semester dua.
Anakku kedua, remaja putri, sma kelas dua.
Anakku ketiga, abg pria, smp kelas satu.
Hubungan kami, sangat erat dan akrab, layaknya sahabat. Kami selalu berbagi rasa suka dan duka, cerita sehari hari. Tiap hari aku mendengarkan cerita cerita mereka, ada yang lucu, ada yang menggemaskan, ada yang nyebelin bikin kesel, ada nyenengin, ah pokoknya berbagai macam cerita. Dan akupun akan menceritakan kejadian seharian yang aku alami.
Aku sungguh merasa beruntung, dan memanjatkan puji syukur pada Allah SWT, yang telah mempercayakan mereka padaku.
Kami bisa berbagi cerita apa saja. Aku sendiri sering bercerita tentang pengalaman masa muda aku kepada mereka. Kebandelan aku, kegagalan aku. Aku tidak merasa malu untuk mengakui kekuranganku pada mereka, karena aku selalu menekankan bahwa walaupun aku seorang ibu, tapi, aku hanya manusia biasa, jadi bisa saja berbuat salah, keliru atau khilaf. Aku bercerita seperti itu karena aku tidak ingin mereka mengulangi kesalahan yang sama seperti yang pernah aku lakukan atau merasakan pengalaman pahit yang pernah aku alami.
Tapi bukan hanya kekurangan aku tapi juga kelebihan aku, walau jadi terasa narsis, hehhehe....., tapi aku ingin mereka bisa meniru hal hal yang baik atau menyengangkan yang aku rasakan.
Hasilnya, lumayan....., anak anak ku tidak perlu mengalami pengalaman buruk ibunya, dan juga bisa meniru hal hal yang baik dari ibunya. (yang jelek juga suka ditiru ding....).
Aku menerapkan keterbukaan, kejujuran dan keterusterangan. Kami sering saling curhat, dan yang paling sering dicurhatin seperti biasanya anak remaja... tentang pacar, ...... hahhaha...perca. kadang kadang suka niru juga kejahilan ibunya..... hhehhehe... tepe tepe (tebbar pesona).
Kepada mereka bahkan aku mengajarkan lebih tepat menceritakan bagaimana caranya bergaul dengan lawan jenis, aku memberikan trik trik yang mereka butuhkan dalam pergaulan.... dan hasilnya ternyata huu.... mereka jadi lebih jago dan berhasil daripada aku dulu ketika seumur mereka.... weleh weleh...
Memang menyenangkan punya sahabat dan menjadi sahabat anak sendiri.
Langganan:
Postingan (Atom)
