Senin, November 08, 2010
Suami yang luar biasa
Bila kita mendengar seoang istri melayani dan mengurus suaminya itu adalah hal biasa dan memang sudah seharusnya. Dan apabila kita melihat dan mendengar seorang istri melayani dan mengurus suaminya yang sedang sakit atau sakit yang menyebabkan dia tidak bisa melakukan apa apa sendiri dan istrinya yang mengurus dan membantunya itu juga hal yang dianggap biasa oleh orang orang pada umumnya.
Tetapi, bagaimana bila kejadian itu dibalik, tetapi seorang suami yang mengurus dan meladeni istrinya, karena sang istri menderita sakit akut yang parah sehingga memerlukan bantuan suami.
Kemarin, suami ku bercerita, bahwa dia ketemu dengan teman lama yang sudah lama tidak berjumpa. Sekarang temannya itu telah menjadi pengusaha yang sukses. Dan dia bercerita, kesuksesannya ini adalah berkata jasa istri yang sangat dicintainya.
Menurutnya istrinya itu adalah semangat hidupnya, belahan jiwanya, dia akan merasa ada sesuatu yang tidak lengkap bila tidak ada istrinya. Masih menurutnya, istrinyalah yang selalu membangkitkan semangatnya ketika ia sedang merasa terpuruk, istrinyalah yang selalu menghiburnya ketika dia sedang merasa kecewa atau sedih, istrinya juga yang selalu menenangkannya kalau dia sedang resah gelisah gundah dan marah dan isterinya jugalah yang selalu mendorong dia untuk maju. Tetapi, sekarang istrinya sakit, kena stroke, yang menyebabkan ia harus selalu tergantung dengan orang lain dalam mengerjakan aktivitas hariannya. Dan tahu kah apa yang dilakukan oleh suami itu. Sekarang ia yang ganti mengurus istrinya. Sebelum berangkat kantor dan sesudah pulang dari kantor. Teman suamiku itu begitu telaten mengurus dan merawat istrinya. Bukannya mereka tidak memiliki anak yang sepatutnya mengurus ibunya, tetapi sang suami lah yang tidak mengijinkan orang lain kecuali dia yang mengurus dan merawat istri, bahkan anaknya sendiripun tidak diijinkannya.
Sebegitu besar cintanya pada istrinya, sehingga dia mau melakukan itu semua dengan ikhlas dan senang hati.
Oh, aku jadi teringat dengan ayah ibuku. Mereka begitu saling mencintai. Ketika ayahku sakit kena stroke, ibuku yang merawat dia dengan sepenuh hati, sampai ayahku bisa 75% pulih kembali. Tetapi ketika ibu juga terkena stroke, ayahku dengan segala keterbatasannya berusaha untuk merawat ibuku. Diakhir akhir hayatnya dimana stroke telah menyerang mereka sampai beberapa kali, mereka bahu membahu untuk saling menjaga satu sama lain. Bahkan mereka tetap bisa saling menunjukkan rasa kasih diantara mereka. Sampai akhirnya maut yang memisahkan mereka. Karena ayahku telah dipanggil lebih dahulu oleh Yang Maha Pemilik. Dan ketika akhirnya ibuku pun dipanggil oleh Yang Maha Pemilik, mereka dikuburkandalam satu liang, sebagai tanda cinta kasih diantara mereka. Karena memang 2 bulansebelum ibuku meninggal beliau berpesan kalau dia meninggal agar dikuburkan satu liang dengan ayahku.
Ada lagi cerita tentang sahabatku. Sahabat aku ini menikah tetapi tidak dikaruniai anak, jadi mereka hanya hidup berdua saja. Malang tak dapat di tolak untuk tak dapat di raih, sahabatku divonis sakit kanker rahim, stadium lanjut. Ia sudahpergi berobat kemana mana, baik medis maupun non medis, tapi tidak membuahkan hasil, kondisinya makin menurun sampai akhirnya hanya bisa berbaring ditempat tidur saja. Selama ia sakit, hanya suami dan seorang pembantunyalah yang merawat dia. Dan selama mereka menikah selama 25 tahun lebih, tak sekalipun suaminya terbersit untuk menikah lagi. Mereka tetap saling menyayangi. Dan yang membuat hati aku menjadi sangat tergetar, ketika sahabat ku ini meninggal dunia, suaminyalah yang mengurus jenasahnya. Ia memandikan sendiri istrinya dengan penuh kasih. Oh rasanya sempurna sekali kasih sayangnya, ia merawatnya ketika istrinya sakit sampai di akhir hayatnya.
Menurut aku mereka adalah SUAMI SUAMI YANG LUAR BIASA, mencintai istrinya dengan sepenuh hati.
Aku membayangkan, betapa luar biasanya laki laki ini, yang mau merawat istrinya yang tidak berdaya bukan meninggalkannya, mencari istri baru seperti kebanyakan laki laki. Betapa luar biasanya. Aku jadi bertanya di dalam hati bisakah suamiku melakukan hal hal seperti suami suami yang luar biasa itu?
Aku tak tahu, tapi aku bisa merasakan sampai saat ini, dan mudah mudahan terus sampai mati, ia juga suami yang luar biasa. Ketika aku terbaring sakit tak berdaya, dia selalu ada disisi aku, merawat dan menemani aku. Dia selalu mendukung aku, apapun dia upayakan untuk membahagiakan aku. Dia memang bukan suami yang sempurna, memiliki kekurangan dan kelemahan tetapi dia sempurna untuk aku, karena kekurangannya membuat aku menjadi istri yang sempurna.
Aku pernah iseng bertanya padanya tentang perasaan dia ke aku, seberapa besar cintanya padaku. Dia hanya tertawa kecil, katanya seharusnya aku bisa menilai sendiri, dan jangan pernah mengharapkan ia akan menjawabnya, karena itu rahasia hatinya, hanya dia dan Tuhan yang tahu katanya.
Hm dasar lelaki suka sok gengsi. Tapi biarlah dia tidak mau bicarapun aku sudah tahu, aku sudah bisa merasakan besarnya cinta dia padaku. DIA MEMANG SUAMI YANG LUAR BIASA untuk diriku. Terima kasih Tuhan, Engkau memberikan dia untuk ku, semoga kasih diantara kami bisa abadi sampai mati. Amin..
Dan bagaimana dengan para suami, apakah anda sudah menjadi suami yang luar biasa untuk istri anda?
SEORANG TEMAN DG KETULUSAN HATI
Seorang teman mengirimi aku sebuah cerita tentang seorang guru, guru Taman Kanak Kanak dan Sekolah Dasar. Dan dia sangat menyukai pekerjaannya yang selalu berhubungan dengan anak anak karena menurutnya mereka itu mempunyai hati yang tulus dalam bersikap, tidak seperti orang dewsasa yang penuh kepura puraan. Dan dia berharap dia bisa mempunyai hati yang tulus seperti anak anak itu.
Cerita ini mengingatkan aku kepada seseorang yang kukenal baik.
Dia seseorang yang mengabdikan hidupnya untukkeluarganya, suami dan anak anaknya.
Dia seorang yang tulus dalam melakukan sesuatu, tidak memiliki pamrih bila membantu orang, bahkan sekedar pujianpun ia hindarkan. Prinsipnya kalau tangan kanan memberi sedapat mungkin tangan kiri tidak boleh tahu. (kiasan).
Dia juga seorang guru, guru Taman Kanak Kanak dan Sekolah Dasar.
Dia disayang oleh hampir setiap orang yang mengenalnya, dari anak anak, ramaja, orang dewasa bahkan para orang tua.
Sikapnya selalu riang dan setiap keberadaannya selalu membawa kegembiraan bagi orang sekitarnya. Karena dia percaya kegembiraan dapat ditularkan begitu pula dengan kesedihan, makanya dia tidak mau dilihat orang sedang bersedih, karena dia tidak ingin orang jadi ikut bersedih karena melihat dia bersedih.
Dia tidak memiliki keinginan yang berlebihan, dia hanya ingin dirinya menjadi orang yang berguna bagi agamanya, bagu keluarga dan bagi orang orang disekilingnya.Walaupun usianya belum terlalu tua tetapi dia menjadi tempat bertanya bagi keluarga, kerabat dan teman temannya. Tetapi dia pun tidak pernah berhenti belajar. Karena menurutnya hidup itu adalah proses belajar dan kita dapat belajar dimana saja, kapan saja dan dari siapa saja.
Belajar dari siapa saja, dari buku, dari alam, dari anak anak, orang tua pokoknya dari siapa saja.
Temannya sangat banyak dan dari berbagai macam kalangan.
Kalangan pengusaha, eksekutif, pedagang, bahkan pedagang di pasar pasar sekalipun, menjadi temannya, tukang angkut barang di pasar, seniman, ibu ibu pengajian, ibu ibu sosialita, disetiap lapisan masyarakat dia memiliki teman.
Dia merasa bahagia bila melihat orang lain bahagia dan dia bisa ikut menangis sedih ketika melihat dan mendengar orang lain bersedih atau menderita sementara dia atidak dapat menolong atau berbuat sesuatu untuk mereka.
Dia begitu mengagumkan, moga aku bisa seperti dirinya, yang melakukan segala hal dengan hati, dengan ketulusan hati.
Cerita ini mengingatkan aku kepada seseorang yang kukenal baik.
Dia seseorang yang mengabdikan hidupnya untukkeluarganya, suami dan anak anaknya.
Dia seorang yang tulus dalam melakukan sesuatu, tidak memiliki pamrih bila membantu orang, bahkan sekedar pujianpun ia hindarkan. Prinsipnya kalau tangan kanan memberi sedapat mungkin tangan kiri tidak boleh tahu. (kiasan).
Dia juga seorang guru, guru Taman Kanak Kanak dan Sekolah Dasar.
Dia disayang oleh hampir setiap orang yang mengenalnya, dari anak anak, ramaja, orang dewasa bahkan para orang tua.
Sikapnya selalu riang dan setiap keberadaannya selalu membawa kegembiraan bagi orang sekitarnya. Karena dia percaya kegembiraan dapat ditularkan begitu pula dengan kesedihan, makanya dia tidak mau dilihat orang sedang bersedih, karena dia tidak ingin orang jadi ikut bersedih karena melihat dia bersedih.
Dia tidak memiliki keinginan yang berlebihan, dia hanya ingin dirinya menjadi orang yang berguna bagi agamanya, bagu keluarga dan bagi orang orang disekilingnya.Walaupun usianya belum terlalu tua tetapi dia menjadi tempat bertanya bagi keluarga, kerabat dan teman temannya. Tetapi dia pun tidak pernah berhenti belajar. Karena menurutnya hidup itu adalah proses belajar dan kita dapat belajar dimana saja, kapan saja dan dari siapa saja.
Belajar dari siapa saja, dari buku, dari alam, dari anak anak, orang tua pokoknya dari siapa saja.
Temannya sangat banyak dan dari berbagai macam kalangan.
Kalangan pengusaha, eksekutif, pedagang, bahkan pedagang di pasar pasar sekalipun, menjadi temannya, tukang angkut barang di pasar, seniman, ibu ibu pengajian, ibu ibu sosialita, disetiap lapisan masyarakat dia memiliki teman.
Dia merasa bahagia bila melihat orang lain bahagia dan dia bisa ikut menangis sedih ketika melihat dan mendengar orang lain bersedih atau menderita sementara dia atidak dapat menolong atau berbuat sesuatu untuk mereka.
Dia begitu mengagumkan, moga aku bisa seperti dirinya, yang melakukan segala hal dengan hati, dengan ketulusan hati.
Jumat, November 05, 2010
Banyak orang yang menghujat Pemerintah, para Pemimpin, karena dianggap tidak becus menangani bencana.
Ada mahasiswa yang berdemo menentang kedatangan SBY ke Yogya untuk berkunjung ke daerah bencana. Bahkan ada pula mahasiswa yg demo demo tidak jelas dan tidak penting tujuannya, yg paling memalukan ada juga diantara mereka yang tawuran.
Ada pula politikus yg sibuk mencari muka dan celah dalam derita bangsa ini bahkan untuk mencari simpati.
Tapi wahai saudaraku, jangan pedulikan mereka, jangan hiraukan mereka. Biarlah mereka menjadi anjing anjing yang hanya bisa menggonggong tanpa bisa berbuat sesuatu. biarkan anjing menggonggong kafilah tetap berlalu.
Saudara saudara kita yg terkena bencana itu membutuhkanpertolongan yang nyata, membutuhkan uluran tangan yang nyata. Lihatlah para Relawan, pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka tidak berteriak teriak, mereka tidak gembar gembor, meeka rela membantu saudara saudara kita yang kesusahan, menderita tanpa pamjrih.
Lihat juga para prajurit kita, bahau membahu menolong dan bekerja di tempata bencana.
Diamlah, tutup mulutmu, itu jauh lebih baik dari pada teriak teriak menghujat orang.
Ada mahasiswa yang berdemo menentang kedatangan SBY ke Yogya untuk berkunjung ke daerah bencana. Bahkan ada pula mahasiswa yg demo demo tidak jelas dan tidak penting tujuannya, yg paling memalukan ada juga diantara mereka yang tawuran.
Ada pula politikus yg sibuk mencari muka dan celah dalam derita bangsa ini bahkan untuk mencari simpati.
Tapi wahai saudaraku, jangan pedulikan mereka, jangan hiraukan mereka. Biarlah mereka menjadi anjing anjing yang hanya bisa menggonggong tanpa bisa berbuat sesuatu. biarkan anjing menggonggong kafilah tetap berlalu.
Saudara saudara kita yg terkena bencana itu membutuhkanpertolongan yang nyata, membutuhkan uluran tangan yang nyata. Lihatlah para Relawan, pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka tidak berteriak teriak, mereka tidak gembar gembor, meeka rela membantu saudara saudara kita yang kesusahan, menderita tanpa pamjrih.
Lihat juga para prajurit kita, bahau membahu menolong dan bekerja di tempata bencana.
Diamlah, tutup mulutmu, itu jauh lebih baik dari pada teriak teriak menghujat orang.
Minggu, Juli 11, 2010
pantaskah kita mengeluh
Ini cerita tentang teman teman saya yang telah tiada karna penyakit kanker yang menggerogotinya.
Ajal, adalah takdir Allah, tapi ada asbab untuk bertemu dengan ajal itu, dan ada banyak sekali asbab yang menyebabkan ajal itu. Salah satunya adalah penyakit dan salah satu penyakit itu adalah kanker yang memang dikenal sebagai penyakit yang mematikan karena belum ada obat yang pasti.
Pertama, aku punya seorang sahabat , yang sudah seperti kakakku sendiri, aku sangat sayang padanya, begitu juga keluarganya, anak anaknya, mereka semua sayang padaku. Sahabatku ini, sama sekali tidak menyangka baha ia mengidap kanker. Pada awalnya ia merasa punggungnnya tepatnya tulang blikatnya terasa nyeri dan ngilu. Awalnya dipikir masuk angin, jadi di kerokin, ternya ta masih sakit, kemudian disangka ada urat yang kejepit, sehingga di urut, ternya masih tidak ada perubahan, akhirnya ke dokter, dokter awalnya mendiagnosa asam urat atau pengapuran, ternya semua salah, akhirnyasahabatku ini pergi ke rumah sakit spesialis tulang. Setelah diperiksa dengan teliti didapatlah hasil diagnosa yang cukup mengejutkan, sahabatku terkena kanker tulang stadium 4.
Kedua, sahabatku dan kakak sepupuku, mereka tak pernah mengeluh apapun tentang kesehatan dirinya, dan kesehariannya pun terlihat biasa saja, normal normal saja, tetapi ternyata ia telah mengidap kanker payudara juga stadium 4, dan kini pun telah dipangil menghadapNya
Ketiga, masih juga sahabatku dan juga masih kanker, yyang ini terkena kanker lidah, ia juga tidak pernah mengeluhkan tentang kesehatannya, tahu tahu aku dikabari bahwa dia terkena kanker lidah dan telah menjalankan operasi. Ketika aku menanyakannya, dia bilang Allah lagi menginginkan aku lebih dekat denbgan Dia. Dan ketika aku menjenguknya, tak tampak sama sekali seperti orang yg sedang sakit, dan ia sama sekali tidak mengeluhkan penyakitnya. Ia hanya bercerita tentang proses operasinya, dia memang bercerita bahwa dia sempet shock menerima kabar itu, tapi ya sudah ia katakan ia pasrah saja menerimanya.
Pasti masih banyak lagi cerita seperti di atas, bukan hanya penyakit kanker saja mungkin, tetapi dari beberapa cerita di atas, aku jadi berpikir, apakah aku pantas mengeluh hanya karena sedikit lelah, sedikit flu atau sakit sedikit?
Aku malu, malu sama Allah, aku malu sama diriku sendiri, bila aku harus mengeluh karena hal hal sepele itu. Sahabat sahabatku saudara ku tidak pernah mengeluh sedikitpun padahalan ujian yang harus dijalaninya amat berat.
Ajal, adalah takdir Allah, tapi ada asbab untuk bertemu dengan ajal itu, dan ada banyak sekali asbab yang menyebabkan ajal itu. Salah satunya adalah penyakit dan salah satu penyakit itu adalah kanker yang memang dikenal sebagai penyakit yang mematikan karena belum ada obat yang pasti.
Pertama, aku punya seorang sahabat , yang sudah seperti kakakku sendiri, aku sangat sayang padanya, begitu juga keluarganya, anak anaknya, mereka semua sayang padaku. Sahabatku ini, sama sekali tidak menyangka baha ia mengidap kanker. Pada awalnya ia merasa punggungnnya tepatnya tulang blikatnya terasa nyeri dan ngilu. Awalnya dipikir masuk angin, jadi di kerokin, ternya ta masih sakit, kemudian disangka ada urat yang kejepit, sehingga di urut, ternya masih tidak ada perubahan, akhirnya ke dokter, dokter awalnya mendiagnosa asam urat atau pengapuran, ternya semua salah, akhirnyasahabatku ini pergi ke rumah sakit spesialis tulang. Setelah diperiksa dengan teliti didapatlah hasil diagnosa yang cukup mengejutkan, sahabatku terkena kanker tulang stadium 4.
Kedua, sahabatku dan kakak sepupuku, mereka tak pernah mengeluh apapun tentang kesehatan dirinya, dan kesehariannya pun terlihat biasa saja, normal normal saja, tetapi ternyata ia telah mengidap kanker payudara juga stadium 4, dan kini pun telah dipangil menghadapNya
Ketiga, masih juga sahabatku dan juga masih kanker, yyang ini terkena kanker lidah, ia juga tidak pernah mengeluhkan tentang kesehatannya, tahu tahu aku dikabari bahwa dia terkena kanker lidah dan telah menjalankan operasi. Ketika aku menanyakannya, dia bilang Allah lagi menginginkan aku lebih dekat denbgan Dia. Dan ketika aku menjenguknya, tak tampak sama sekali seperti orang yg sedang sakit, dan ia sama sekali tidak mengeluhkan penyakitnya. Ia hanya bercerita tentang proses operasinya, dia memang bercerita bahwa dia sempet shock menerima kabar itu, tapi ya sudah ia katakan ia pasrah saja menerimanya.
Pasti masih banyak lagi cerita seperti di atas, bukan hanya penyakit kanker saja mungkin, tetapi dari beberapa cerita di atas, aku jadi berpikir, apakah aku pantas mengeluh hanya karena sedikit lelah, sedikit flu atau sakit sedikit?
Aku malu, malu sama Allah, aku malu sama diriku sendiri, bila aku harus mengeluh karena hal hal sepele itu. Sahabat sahabatku saudara ku tidak pernah mengeluh sedikitpun padahalan ujian yang harus dijalaninya amat berat.
Minggu, Oktober 25, 2009
PERTEMUAN
Kita bisa bertemu karena atas Allah, dan kita berpisah juga atas seijin Nya.
Kita tidak pernah bisa memilih untuk hidup, karena hidup Dia lah yang menentukan.
Kita tidak dapat memilih orang tua kita, kita menjadi anak siapa, dan kita juga tidak bisa memilih kita ingin anak yang seperti apa.
Semua itu telah ditentukan dan diatur oleh Yang MahaKuasa, Sang Maha Pencipta.
Tetapi dalam hidup kita harus memilih, karena hidup itu adalah pilihan.
Kita bisa memilih apakah kita mau menjadi orang yang baik atau jahat, orang yang rajin atau malas, dan seterusnya dan seterusnya.
tigapuluh empat tahun yang lalu orang tuaku mengangkat (adopsi) seorang anak laki laki sebagai adikku. Dua tahun kemudian beliau mengangkat lagi seorang anak perempuan.
Keluarga kami (orang tuaku dan aku) menyayangi mereka dengan tulus. Orang tuaku tidak membedakan kasih sayangnya antara aku dan adik adik angkatku. Bahkan sebenarnya mereka lebih dimanjakan dibandingkan aku. (ini kata saudara saudaraku). Aku juga bisa merasakah hal ini, tapi aku tidak merasa iri, karena aku juga menyayangi dan memanjakan mereka. Hal ini aku anggap sebagai suatu yang wajar, karena ketika orang tuaku mengangkat anak tersebut usiaku sudah duabelastahun. Bayangkan, selama bertahun tahun endambakan anak lagi dan b ertahun tahun pula aku mendambakan adik. Jadi wajar saja kalau adik adikku dimanjakan kami.
Tetapi, sebagai orang muslim, aku menyadari bahwa tidak ada istilah anak angkat dalam Islam. Karena ini berhubungan dengan masalah muhrim dan waris juga nazab. Jadi dengan kata lain mereka harus diberi tahu siapa mereka. Masalahnya orang tuaku tidak mau atau belum mau memberi tahu mereka, Karena mereka khawatir dampaknya dan juga orang tuaku merasa mereka belum siap untuk diberi tahu siapa mereka sebenarnya, sampai akhirnya kedua orang tuaku wafat.
Apabila orang tua kita meninggal, mereka akan mewariskan bukan saja harta bila ada, tetapi juga persoalan yang belum terselesaikan, seperti hutang piutang dll. Dan sekarang orang tuaku meninggalkan harta juga hal hal yang harus diluruskan, yaitu tentang siapa sesungguhnya adik adik ku itu.
Kita tidak pernah bisa memilih untuk hidup, karena hidup Dia lah yang menentukan.
Kita tidak dapat memilih orang tua kita, kita menjadi anak siapa, dan kita juga tidak bisa memilih kita ingin anak yang seperti apa.
Semua itu telah ditentukan dan diatur oleh Yang MahaKuasa, Sang Maha Pencipta.
Tetapi dalam hidup kita harus memilih, karena hidup itu adalah pilihan.
Kita bisa memilih apakah kita mau menjadi orang yang baik atau jahat, orang yang rajin atau malas, dan seterusnya dan seterusnya.
tigapuluh empat tahun yang lalu orang tuaku mengangkat (adopsi) seorang anak laki laki sebagai adikku. Dua tahun kemudian beliau mengangkat lagi seorang anak perempuan.
Keluarga kami (orang tuaku dan aku) menyayangi mereka dengan tulus. Orang tuaku tidak membedakan kasih sayangnya antara aku dan adik adik angkatku. Bahkan sebenarnya mereka lebih dimanjakan dibandingkan aku. (ini kata saudara saudaraku). Aku juga bisa merasakah hal ini, tapi aku tidak merasa iri, karena aku juga menyayangi dan memanjakan mereka. Hal ini aku anggap sebagai suatu yang wajar, karena ketika orang tuaku mengangkat anak tersebut usiaku sudah duabelastahun. Bayangkan, selama bertahun tahun endambakan anak lagi dan b ertahun tahun pula aku mendambakan adik. Jadi wajar saja kalau adik adikku dimanjakan kami.
Tetapi, sebagai orang muslim, aku menyadari bahwa tidak ada istilah anak angkat dalam Islam. Karena ini berhubungan dengan masalah muhrim dan waris juga nazab. Jadi dengan kata lain mereka harus diberi tahu siapa mereka. Masalahnya orang tuaku tidak mau atau belum mau memberi tahu mereka, Karena mereka khawatir dampaknya dan juga orang tuaku merasa mereka belum siap untuk diberi tahu siapa mereka sebenarnya, sampai akhirnya kedua orang tuaku wafat.
Apabila orang tua kita meninggal, mereka akan mewariskan bukan saja harta bila ada, tetapi juga persoalan yang belum terselesaikan, seperti hutang piutang dll. Dan sekarang orang tuaku meninggalkan harta juga hal hal yang harus diluruskan, yaitu tentang siapa sesungguhnya adik adik ku itu.
Selasa, Juni 09, 2009
memberi dan menerima
Kita sudah sering mendengar istilah 'take and give', menerima dan memberi, yang kira kira artinya kalau kita mau menerima ya berarti kita juga harus mau memberi, jangan egois.
Tapi saya baru memahami, mendapat pencerahan baru, bahwa bila kita ingin hidup damai dan cerdas, bukan menerima dan memberi seperti di atas, tetapi Memberi dan Menerima, yang mempunyai makna yang lebih mulia.
Memberi, maksudnya kita memberikan yang terbaik yang dapat kita berikan kepada orang yang kita sayangi, orang tua kita, suami/istri kita, anak anak kita, saudara saudara kita, sahabat sahabat kita, orang orang sekitar kita, bahkan untuk negara kita.
Dan Menerima, maksudnya kita harus bisa menerima kekurangan dari orang orang yang kita sayangi, dan lingkungan kita.
Tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa kita jalani.
Barangkali, diantara kita tanpa kita sadari telah menjalankan prinsip memberi dan menerima ini, hanya saja kita tidak menyadarinya.
Tetapi apabila belum, cobalah untuk mulai menjalaninya, niscaya akan terasa bedanya, hidup ini akan terasa begitu indah dan semakin indah.
Tapi saya baru memahami, mendapat pencerahan baru, bahwa bila kita ingin hidup damai dan cerdas, bukan menerima dan memberi seperti di atas, tetapi Memberi dan Menerima, yang mempunyai makna yang lebih mulia.
Memberi, maksudnya kita memberikan yang terbaik yang dapat kita berikan kepada orang yang kita sayangi, orang tua kita, suami/istri kita, anak anak kita, saudara saudara kita, sahabat sahabat kita, orang orang sekitar kita, bahkan untuk negara kita.
Dan Menerima, maksudnya kita harus bisa menerima kekurangan dari orang orang yang kita sayangi, dan lingkungan kita.
Tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa kita jalani.
Barangkali, diantara kita tanpa kita sadari telah menjalankan prinsip memberi dan menerima ini, hanya saja kita tidak menyadarinya.
Tetapi apabila belum, cobalah untuk mulai menjalaninya, niscaya akan terasa bedanya, hidup ini akan terasa begitu indah dan semakin indah.
Jumat, Mei 22, 2009
bila saja bisa menjadi pelipur lara
bila saja, teriknya matahari
bisa menguapkan dosa dosa kita
bila saja, derasnya tetesan air hujan
bisa menghanyutkan salah salah kita
bila saja, gelapnya mendung ini
bisa menutupi khilaf khilaf kita
dan moga saja hari ini akan menjadi hari yang lebih baik
dari hari hari kemarin
dan moga saja Allah selalu mengabulkan doa doa kita
amien..
bisa menguapkan dosa dosa kita
bila saja, derasnya tetesan air hujan
bisa menghanyutkan salah salah kita
bila saja, gelapnya mendung ini
bisa menutupi khilaf khilaf kita
dan moga saja hari ini akan menjadi hari yang lebih baik
dari hari hari kemarin
dan moga saja Allah selalu mengabulkan doa doa kita
amien..
Langganan:
Postingan (Atom)
